Tepat 3 bulan lalu. Di salah satu perpustakaan kampus, azan berkumandang dan sebagian pengunjung mulai bergantian melaksanakan ibadah di mushola. Baru saja memasuki pintu mushola, terdengar isak tangis yang begitu kencang. Ya, dia sedang bersujud di pojok ruangan. Badannya bergetar. Meneriakkan kata-kata yang tidak bisa dipahami oleh siapapun. Hanya satu yang pasti : ia menangis seolah-olah seluruh beban yang dimilikinya sudah tidak terbendung dan hanya Sang Penyayang yang mampu menerima keadaannya without staring at her awkwardly Iike these people arround her did. Seorang pria yang baru saja menyelesaikan sholat mencoba mendekat perlahan, menawarkan tisu, namun tidak langsung kepada sang wanita yang masih bersujud itu. Ia meminta kepada seorang perempuan lain, “ ini. Berikan padanya, peluk dia ”. Tapi perempuan tersebut tidak berani dan memilih pergi. Mungkin kalau bukan karena norma, pria itu juga ingin memeluk sang wanita hanya untuk memberikan rasa aman. Hingga ada seseorang, ...