Langsung ke konten utama

Doubtful Touch


Tepat 3 bulan lalu. Di salah satu perpustakaan kampus, azan berkumandang dan sebagian pengunjung mulai bergantian melaksanakan ibadah di mushola. Baru saja memasuki pintu mushola, terdengar isak tangis yang begitu kencang. Ya, dia sedang bersujud di pojok ruangan. Badannya bergetar. Meneriakkan kata-kata yang tidak bisa dipahami oleh siapapun. Hanya satu yang pasti : ia menangis seolah-olah seluruh beban yang dimilikinya sudah tidak terbendung dan hanya Sang Penyayang yang mampu menerima keadaannya without staring at her awkwardly Iike these people arround her did.

Seorang pria yang baru saja menyelesaikan sholat mencoba mendekat perlahan, menawarkan tisu, namun tidak langsung kepada sang wanita yang masih bersujud itu. Ia meminta kepada seorang perempuan lain, “ini. Berikan padanya, peluk dia”. Tapi perempuan tersebut tidak berani dan memilih pergi. Mungkin kalau bukan karena norma, pria itu juga ingin memeluk sang wanita hanya untuk memberikan rasa aman.

Hingga ada seseorang, yang sedari tadi mendengarkan kejadian itu, perlahan duduk disampingnya. Sebut ia si pemerhati

Saat berada  disampingnya, tangis sang wanita sudah lebih ringan. Entah mungkin sudah ada yang mengajaknya berbincang selama si pemerhati melaksanakan sholat. Namun irama nafasnya masih belum teratur. Si pemerhati tidak tahu apa yang harus dilakukan. Berharap, seandainya ia dapat mengambil alih amanah yang ditawarkan sang pria.

Tangan si pemerhati sangat ingin menyentuh pundak sang wanita, Sekedar untuk mengatakan “pasti sangat berat untukmu”
Lengan si pemerhati sangat ingin memeluknya. Sekedar untuk menyampaikan, “..kamu tidak sendiri, aku bersedia mendengarkanmu”.
Jari si pemerhati sangat ingin mengusap air matanya

Belum penuh keberanian itu terkumpul. Tangis sang wanita mereda. Sang wanita mulai mengatur napas perlahan dan beranjak dari tempat sujudnya. Berjalan lemah, pergi meninggalkan ruang musholla.

Si pemerhati hanya diam menyesal. Ya. si pemerhati hanya bisa terdiam, questioning her capabilities as a psychologist. Di ruangan itu, tinggal si pemerhati seorang.

Me, keep trying to convince myself that It’s His authority to give the light to the heart of His servant. His power strengthened me sitting next to her, hoping to give her a little comfort.

Komentar